Note: The above article
was corrected to reflect the fact that Sutiyoso was a
member of a unit involved in the Balibo attack, not its
commander.
Menegakkan HAM dengan Membatasi
Bantuan Militer ke Indonesia
Tanggapan atas
editorial Wall Street Journal, Tes Indonesia
terhadap Obama
25/11/08 – Editorial
Wall Street Journal baru-baru ini mendorong
pembacanya mengamati isu “yang kurang mendapat perhatian”
namun penting dalam hubungan militer AS dan Indonesia.
Editorial tersebut (“Tes Indonesia terhadap Obama,”
20/11) mengulang pesan menyesatkan bahwa memperketat
kembali hubungan dengan militer Indonesia yang sebagian
besar belum tersentuh reformasi dan enggan mengakui
dosa-dosanya adalah cara terbaik mendorong reformasi dan
HAM. Tulisan itu menyerukan Presiden-terpilih Obama
“mengabaikan para senator liberal dan kelompok-kelompok
berkepentingan” seperti ETAN dan Amnesty
International dalam menyusun prasyarat bantuan
militer terhadap Indonesia.
Editorial ini mengakui
kenyataan bahwa “Militer Indonesia memang memiliki
masalah HAM di masa silam,” tapi mendorong pemerintahan
mendatang untuk melupakannya demi membangun aliansi
dalam “perang global melawan terror.” Kita tentu sudah
melihat apa yang terjadi akibat mengabaikan tuntutan
masyarakat HAM internasional selama pemerintahan Bush (Guantanamo,
penyiksaan, extraordinary rendition (penangkapan
tak sah),” dst…).
Pemerintahan Obama dan
Kongres ke-119 mendatang harus berubah haluan dan
meletakkan HAM di barisan terdepan dalam menyusun
kebijakan AS terhadap Indonesia. Ini akan memberi
kontribusi dalam mendorong refomasi demokratis dan
pertanggungjawaban HAM di negara berpenduduk mayoritas
Muslim terbesar di dunia, dibanding pelatihan militer
atau bantuan persenjataan dalam jumlah berapapun. Rakyat
Indonesia yang memandang militer sebagai penghalang
utama reformasi yang lebih luas akan sangat berterima
kasih.
Pelajaran sejarah
Jurnal ini juga
berargumen bahwa sejak “1960-an, AS telah bekerja sama
dengan pejabat militer Indonesia dalam berbagai
pertukaran mulai dari kursus singkat hingga latihan
gabungan. Program-program ini telah membantu Indonesia
membangun keahlian teknis serta mempelajari nilai-nilai
utama, seperti menegakkan HAM dan menghargai kendali
sipil. …”
Ini tidak benar.
Masa-masa bergelimang “masalah HAM” justru mencapai
puncaknya ketika AS terlibat penuh dengan militer
Indonesia.
Mari kita lihat apa
yang terjadi ketika hubungan AS – Indonesia sedang
erat-eratnya. Pada tahun 1965, Jenderal Suharto naik
tahta lewat kudeta dan menurut para ahli, sebagai
akibatnya sekitar 1 juta orang terbunuh. Papua Barat
diduduki pada tahun 1963 dengan korban 100.000 jiwa. Di
tahun 1975, Indonesia dengan dukungan terang-terangan AS
menginvasi Timor Timur, dengan korban 100.000 – 200.000
jiwa. Sekitar 90% senjata yang digunakan selama invasi
dan pendudukan selanjutnya berasal dari AS. Belum lagi
korban-korban berjatuhan di seluruh nusantara, yang tak
banyak mendapat perhatian. Mereka mengalami siksaan,
pemerkosaan atau kehilangan sanak saudara, mata
pencaharian atau tempat tinggal. Inilah nilai-nilai
utama yang dipelajari militer Indonesia dari bantuan
berlimpah militer AS.
Satu-satunya periode
dimana reformasi yang signifikan berlangsung, justru ketika
AS menunda banyak bantuannya selama 19901-an. Salah satu
perubahan terbesar adalah berakhirnya kediktatoran
Suharto di tahun 1998. Setelah dia digulingkan dari
tahtanya, Timor Timur pun meraih kemerdekaannya. (Proses
keluarnya militer Indonesia yang destruktif, selama
beberapa saat, telah mendorong terputusnya semua bantuan
militer secara total.) Di tahun 1990-an, militer
menghapuskan sejumlah hak-hak istimewanya, termasuk
kursi-kursi di parlemen. Tetapi sejak AS mulai
memperbaharui kembali bantuan militer yang terus
bertambah jumlahnya sejak tahun 2002, proses reformasi
ini telah terhenti.
Di tahun 2005,
pemerintahan Bush telah memperbaharui hampir semua
bantuan militer dan sejak itu berusaha mempererat
hubungannya lewat pelatihan terhadap Kopasus, unit
militer khusus yang punya reputasi buruk dalam berbagai
pelanggaran HAM terburuk di Timor-Timur, Papua Barat,
dan Aceh dan berbagai tempat lainnya. Wall Street
Journal berpikir bahwa seperaduan dengan Kopasus
adalah ide cemerlang. Mereka mempersembahkan beberapa
paragraph untuk mengkritik Senator Patrick Leahy dan
Russ Feingold atas penentangan mereka untuk menghapus
hambatan terakhir menuju hubungan militer tanpa batas.
Padahal para senator ini hanya menyerukan dipatuhinya
hukum yang berlaku (yang disusun oleh Senator Leahy)
yang melarang pelatihan atas unit militer yang memiliki
sejarah kelam kejahatan HAM, di mana mereka yang
bertanggungjawab belum diseret ke pengadilan. Jika
aturan ini memang ada maknanya, ini harus berlaku
terhadap Kopasus.
Pembaharuan kerja sama
telah gagal mengakhiri kekebalan yang dinikmati oleh
aparat keamanan Indonesia atas kejahatan terhadap
kemanusiaan dan berbagai pelanggaran lainnya terhadap
rakyat Timor Timur dan Indonesia. Malahan pembaharuan
tersebut telah memperkuat penolakan kalangan militer
terhadap kendali kalangan sipil, dan kengototan mereka
dalam menekankan isu keamanan dalam negeri. Militer
Indonesia terus menolak usaha menghapus sistem “komando
territorial”nya, yang memungkinkan militer membangun
pengaruh terhadap administrasi sipil dan dunia politik,
perdagangan, dan peradilan hingga ke tingkat desa.
Terakhir, usaha menegakkan hukum guna mengakhiri
keterlibatan militer di dunia bisnis kini jadi wacana
belaka, dan militer tetap terlibat dalam berbagai usaha
ilegal, termasuk perdagangan kayu dan narkotika.
Sejumlah jenderal
pensiunan bertanggung-jawab atas beberapa pembantaian
terburuk di Timor Timur adalah calon presiden serius
dalam pemilihan umum tahun depan. Jenderal Wiranto
mungkin yang paling terkenal. Dia meraup suara terbanyak
ketiga pada Pemilu 2004. Wiranto divonis oleh pengadilan
yang disponsori PBB di Timor Timur atas kejahatan
terhadap kemanusiaan dalam perannya sebagai pemimpin
tertinggi militer di tahun 1999, dalam usahanya
melemahkan pemungutan suara menuju kemerdekaan yang
diorganisir PBB. Mantan komandan Kopasus (dan menantu
Suharto), Prabowo Subianto adalah calon kuat presiden
lainnya. Menurut sebuah laporan koroner Australia,
kandidat potensial ketiga, Sutiyoso, adalah bagian dari
unit yang membunuh lima wartawan asing setelah mereka
menyeberangi perbatasan Timor beberapa bulan sebelum
invasi penuh Indonesia.
Pendekatan baru
Pelanggaran HAM tidak
hanya terjadi di masa silam. Di Papua Barat, dengan
perlindungan militer Indonesia, Freeport, perusahaan
tambang asal AS, telah merusak lingkungan, mata
pencaharian, dan budaya masyarakat lokal sambil meraup
miliaran dolar dari tambang emas terbesar dunia ini.
Tahun ini saja, unjuk rasa dari masyarakat Papua yang
menuntut hak penentuan diri dan hak bersuara yang lebih
luas telah dihadapi dengan tindakan brutal, termasuk
penjara dengan masa tahanan panjang, penyiksaan dan
kematian setidaknya satu orang warga yang kebetulan
lewat.
Pada bulan Mei 2007,
Angkatan Laut membunuh empat warga sipil dan melukai
delapan lainnya dalam sebuah sengketa lahan antara
penduduk desa dan Angkatan Laut Indonesia di Pasuruan,
Jawa Timur. Menurut The International Herald Tribune,
“Anggota Marinir diadili oleh Pengadilan Militer tapi
akhirnya hanya dijatuhi hukuman 18 tahun penjara.
Hubungan Angkatan Laut dengan perusahaan perkebunan
tidak pernah diinvetigasi, begitu pula pejabat tinggi di
markas tersebut. Sengketa tanah itu tetap tak
terpecahkan.”
Seperti di masa silam,
pemerintahan AS sekarang mengabaikan fakta ini dan
pelanggaran HAM lainnya, sambil merayakan menguatnya
kerja sama kelembagaan dengan pihak keamanan Indonesia.
Akankah Obama berubah
haluan? Presiden terpilih Obama telah menggambarkan
keterlibatan AS di Indonesia, di mana ia menjalani masa
kecilnya, dengan nada negatif. Dalam buku Audacity of
Hope, Obama menulis bahwa “selama 60 tahun terakhir
nasib [Indonesia] sangat tergantung pada kebijakan luar
negeri AS.” Kebijakan ini mencakup “teloransi dan
dukungan tanpa henti terhadap tirani, korupsi dan
pengrusakan lingkungan selama itu sejalan dengan
kepentingan kita.” Dalam buku sebelumnya, Dreams of
My Father, Obama menulis tentang pengambilalihan
kekuasaan oleh Suharto yang berlimpah darah: “Korban
jiwa hanya bisa ditebak-tebak: beberapa ratus ribu,
mungkin, setengah juta. Bahkan orang-orang pintar di CIA
pun tidak mampu menghitungnya.”
Kami berharap Obama
berpihak pada masyarakat HAM Indonesia, yang tak sudi
melupakan kejahatan masa silam dan mengabaikan yang
tengah berlangsung seperti yang dilakukan pemerintahan
sebelumnya. Aktivis HAM Indonesia mendorong Presiden
terpilih Obama dan Kongres menekan pemerintah Indonesia
untuk menghargai HAM. Rafendi Djamin, koordinator
Human Rights Watch Group, mengakui bahwa di masa
lampau AS “memiliki peran besar dalam mendorong advokasi
HAM di Indonesia… Saya melihat itu selama pemerintahan
Bush, Kongres AS masih peduli terhadap demokratisasi dan
advokasi HAM, tetapi Bush jarang diberikan peringatan
langsung tentang pentingnya advokasi HAM.”
Djamin menuturkan di
Jakarta Post, “Kami sekarang mengharapkan Obama untuk
lebih menekan Indonesia menyelesaikan kasus-kasus HAM
yang belum tuntas dengan menanyakan langsung pada
pemerintah tentang hal itu dan menekannya pentingnya hal
tersebut.” Aktivis lain mengatakan “Jika Indonesia tidak
menanggapi secara positif tekanan AS… AS bisa
memberlakukan kembali embargo militer terhadap
Indonesia.”
Pejabat Timor Timur
dalam Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi
setelah mengkaji secara terperinci dampak pendudukan
Indonesia dan penarikan pasukannya dari Timor Timur yang
destruktif menyerukan agar bantuan militer kepada
Indonesia “berdasarkan syarat kemajuan dalam
demokratisasi penuh, sub-ordinasi militer terhadap hukum
dan pemerintahan sipil, dan pemberlakuan ketat HAM
internasional…” Presiden Obama dan Kongres harus
mengikuti rekomendasi tersebut.