Subject: Shooting Australian Timor activists by Pat Walsh

Shooting Australian Timor activists

In his book Shooting Balibo, which recounts the making of the film Balibo and his experiences in 1975, Tony Maniaty writes (p. 45) that the East Timor activist lobby in Australia “viewed Indonesia as an object of loathing”.

Even allowing for Maniaty’s caveat in his acknowledgments that his book should not be read as an authoritative history, this assertion should not go unchallenged. It is grossly inaccurate and extraordinarily insensitive to many marvellous Australians whom Maniaty must never have had anything to do with.

As the slur is made in the course of his pen sketch of one of these marvellous Australians, Kirsty Sword Gusmao, whom Maniaty depicts as the exception to the rule, there is added reason to object. “All around her”, writes Maniaty, “activists were shouting, ‘We hate the Indonesians’, but she couldn’t.” The implication is that Kirsty Sword Gusmao shares his put-down of her Australian colleagues. She most certainly does not and was, in fact, part of a wide network of many pro-Timor activists who loved Indonesia and worked hard for human rights in Indonesia too.

Many activists focussed exclusively on Timor-Leste and the network referred to, which I was part of, was concerned at various times that pro-Timor activity in Australia might lose focus and spill over into indiscriminate anti-Indonesian behaviour. Or that it might be misinterpreted, wilfully or out of ignorance, as broadly anti-Indonesian and contribute to a poisoning of attitudes and relationships. To pre-empt this, many of us – precisely we cared for Indonesia and Indonesians – always insisted that the argument was with the Indonesian military, not the Indonesian people. We also worked deliberately and systematically over many years to deepen understanding of Indonesia in Australia and to foster people-to-people relations between Australians and Indonesians on many issues of common concern. These issues included Timor-Leste – in the belief that change in Timor-Leste had to come from Indonesia, as happened. This was principled, sophisticated, far-sighted, informed and difficult work. It does not deserve to be dismissed as a raucous, mindless hate Indonesia campaign.

Maniaty’s comment is a thoughtless repetition of a view that was regularly trotted out by defenders of the Soeharto regime during the long struggle over East Timor’s fate. This sort of give and take is no surprise in the heat of battle. But such nonsense has no more place in a serious book published in 2009 than equally specious claims over the years that Indonesians who supported human rights in East Timor were unpatriotic or that journalists who exposed the violence in East Timor over 25 years were driven by revenge for the murder of their colleagues in 1975.

For a rounded appreciation of the contribution by Australian activists and their colleagues in other parts of the world, readers are advised to consult the CAVR report Chega!, particularly its portrayal of civil society in the chapter on self-determination < www.cavr-timorleste.org>. This section is being republished to mark the 10th anniversary of the 1999 referendum and will be available in Dili from late August.

Pat Walsh, Dili, 5 August 2009

Shooting Balibo

--------

Memberondong aktivis Timor Australia

Dalam bukunya, Shooting Balibo, yang menceritakan tentang pembuatan film Balibo dan pengalamannya pada 1975, Tony Maniaty menulis (hal. 45) bahwa kelompok aktivis Timor-Leste di Australia “memandang Indonesia sebagai objek kebencian.”

Bahkan dengan memperhitungkan peringatan Maniaty dalam pengakuannya bahwa bukunya sebaiknya tidak dibaca sebagai suatu catatan sejarah yang otoritatif, pernyataan ini tak boleh didiamkan saja. Pernyataan tersebut sangatlah tak akurat dan luarbiasa tak peka terhadap perasaan banyak orang Australia yang pasti tak pernah dikenal Maniaty.

Karena hinaan itu dibuat dalam sketsa penanya atas salah satu orang Australia mengagumkan itu, Kirsty Sword Gusmao, yang digambarkan Maniaty sebagai pengecualian, ada alasan tambahan untuk berkeberatan terhadap pernyataan itu. “Di sekitar [Kirsty],” tulis Maniaty, “para aktivis berteriak, ‘Kami benci orang Indonesia,’ tapi dia sendiri tak bisa melakukannya.” Implikasi pernyataan itu adalah bahwa Kirsty Sword Gusmao setuju dengan celaannya terhadap rekan-rekan Australia Kirsty. Tapi, Kirsty Sword Gusmao pastilah tidak setuju dengan itu, dan dia sesungguhnya juga bagian dari suatu jaringan luas aktivis pro-Timor yang mencintai Indonesia dan juga bekerja keras untuk memperjuangkan hak asasi manusia di Indonesia.

Banyak aktivis yang secara khusus berfokus pada Timor-Leste dan jaringan tersebut, di mana saya juga menjadi bagiannya, kerap kuatir kalau-kalau aktivitas pro-Timor di Australia kehilangan fokus dan menyebar menjadi perilaku anti-Indonesia; atau bahwa aktivitas tersebut dapat salah ditafsirkan, baik secara sengaja maupun karena ketidaktahuan, sebagai anti-Indonesia dan berkontribusi kepada memburuknya perilaku dan relasi. Untuk mencegah hal ini, banyak dari kami­karena kami peduli pada Indonesia dan orang-orang Indonesia­senantiasa bersikeras bahwa masalahnya adalah dengan militer Indonesia, bukan masyarakat Indonesia. Selama bertahun-tahun, kami bekerja dengan seksama dan sistematis untuk memperdalam pemahaman atas Indonesia di Australia dan untuk memelihara hubungan antarkelompok manusia antara orang-orang Australia dan Indonesia mengenai berbagai hal yang menjadi keprihatinan bersama. Masalah tersebut mencakup Timor-Leste­dalam kepercayaan bahwa perubahan di Timor-Leste haruslah berasal dari Indonesia, sebagaimana terbukti kemudian. Ini merupakan kerja yang canggih, berprinsip, bervisi, sulit, dan berdasar pada informasi yang cukup dan akurat. Kerja ini tak pantas dianggap sebagai suatu kampanye kebencian terhadap Indonesia yang dilakukan dengan asal dan berisik.

Komentar Maniaty merupakan pengulangan pandangan yang biasa diuar-uarkan oleh pembela rezim Soeharto pada masa perjuangan panjang untuk menentukan nasib Timor-Leste. Perdebatan seperti ini tidaklah mengejutkan dalam panasnya pertempuran. Tapi, omongkosong seperti ini tak lebih punya tempat dalam suatu buku serius yang diterbitkan pada 2009 ketimbang pernyataan yang juga sama palsunya bahwa orang-orang Indonesia yang mendukung penegakan hak asasi manusia di Timor-Leste tidaklah patriotis, atau bahwa wartawan yang memaparkan kejahatan yang terjadi di Timor-Leste selama 25 tahun didorong oleh keinginan balas dendam atas pembunuhan rekan mereka pada 1975.

Untuk apresiasi lengkap atas kontribusi aktivis Australia dan rekan mereka di bagian lain dunia, para pembaca sebaiknya belajar laporan CAVR Chega!, pada khususnya deskripsi masyarakat sipil di bagian atas penentuan nasib sendiri < www.cavr-timorleste.org>. Bagian ini Chega! sedang dipublikasikan kembali untuk memperingati ulang tahun 10 Jajak Pendapat 1999 dan akan tersedia di Dili dari achiran bulan ini.

Pat Walsh, Dili, 5 Agustus 2009

Shooting Balibo INDO


Back to August Menu
July

World Leaders Contact List
Main Postings Menu